Membawa Karya Jogja ke Kancah Global: STSRD VISI dan Collective Minds Gelar "MADE FOR MORE+"

YOGYAKARTA - Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Visi Indonesia (STSRD VISI) di Yogyakarta berkolaborasi dengan agensi talenta kreatif internasional Collective Minds (Singapura) menggelar pembekalan industri bertajuk "MADE FOR MORE+: Think Bigger. Go Further." pada Jumat (16/10/2026). Berlangsung pukul 10.00-15.00 WIB di Kampus STSRD VISI, acara ini dibuka dengan sambutan Ketua STSRD VISI Wahju Tri Widadijo, M.Sn., dan diprioritaskan bagi mahasiswa DKV yang sudah maupun hampir menempuh kerja profesi, didampingi Ketua Program Studi DKV Dwisanto Sayogo, M.Ds. dan Sekretaris Program Studi DKV Derena Martha Yohanda, M.Ds. Meski begitu, mahasiswa D3 dan S1 semester awal turut terlihat antusias mengikuti sesi ini.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber praktisi, yaitu Monica Hynds (Founder & CEO Collective Minds), Syahrul Hidayat (Head of Talent & Creative Services, Remote Collective), dan M. Noor Ariffin (alumni STSRD VISI sekaligus Founder & Creative Director Cypher Seven, Singapura), dengan tujuan memperkuat soft skills, standar portofolio, dan mentalitas kerja global mahasiswa DKV.
Rangkaian acara berlangsung hangat dan interaktif, dibuka dengan sambutan Ketua STSRD VISI yang memaparkan visi dan tujuan program ini bagi mahasiswa, dilanjutkan pembekalan human skills di era AI oleh Monica Hynds, bedah standar rekrutmen portofolio global oleh Syahrul Hidayat, hingga sesi panel bersama alumni. Berikut insight utama yang terangkum dari acara.

Alumni: Jejak Lulusan STSRD VISI di Singapura
Hadirnya M. Noor Ariffin, alumni DKV STSRD VISI yang kini memimpin agensi Cypher Seven di Singapura, menjadi bukti nyata daya saing lulusan kampus. Dalam sesi panel, Ariffin mengungkapkan bahwa ia kerap bekerja sama dengan alumni STSRD VISI lain.
"Sangat bisa diharapkan, reliable... Karya-karya mereka bagus dan teman-teman yang lain yang pernah kerja sama mereka semuanya bilang ini bagus," ujar Ariffin saat ulasannya diminta soal performa alumni VISI.
Ia menegaskan potensi mahasiswa Indonesia sangat diapresiasi industri internasional, selama mereka berani mengikis rasa minder: "Banyak potensi yang tidak terlihat oleh orang luar... anak-anak VISI, karya-karyanya luar biasa dan kemampuannya ada."

Kurikulum: Fondasi Berpikir dan Pemecahan Masalah
Para narasumber menilai pendidikan dasar DKV di STSRD VISI memberi fondasi teknis dan konseptual yang kuat. Ariffin bercerita, latihan manual seperti Nirmana dan gambar bentuk sangat berguna ketika menghadapi tantangan di industri nyata.
"Semua apa yang saya pelajari itu adalah basic fundamentals yang sangat penting, yang membangun enggak cuma skill, tapi lebih ke cara berpikir... mencari solusi," tuturnya. "Jangan pernah meremehkan semua yang kalian pelajari di kampus... Nirmana, rupa dasar, sejarah seni rupa, itu sangat penting untuk cara berpikir dan mengetahui proses."
Syahrul Hidayat sependapat soal peran dosen dalam membentuk standar visual mahasiswa: "Dengan fondasi yang bagus, taste yang dibuat melalui ajaran para dosen di sini, itu membikin fondasi desain atau visual kalian tuh kuat banget."
Monica Hynds melengkapi bahwa keahlian teknis dari kampus perlu dipadukan dengan soft skills: "Kalian tuh udah punya technical skills dari STSRD. Apalagi sih kita mau kasih kalian tuh soft skills... You are made to make more."

Pameran dan Karya Mahasiswa: Kualitas Manual yang Mengagumkan
Sebelum acara dimulai, para narasumber sempat meninjau galeri kampus dan memberikan apresiasi tinggi terhadap karya mahasiswa STSRD VISI. Monica Hynds mengaku kagum akan detail dan ketelitian karya fisik mahasiswa.
"STSRD nih sebagai sekolah... karya-karyanya kalau misal di galeri di Singapura bisa nih, mau dibeli... Ambisi untuk STSRD itu, the top three art school di Indonesia," ujarnya.
Ia juga menyoroti keunggulan ketelitian karya tangan mahasiswa VISI dibanding mahasiswa Singapura yang menurutnya cenderung terlalu bergantung pada alat digital: "Anak Singapura semua tergantung sama technology, jarang yang saya lihat dotnya tadi... fokusnya luar biasa."

Insight dari Interaksi Dosen DKV
Dalam sesi diskusi, Ketua Program Studi DKV Dwisanto Sayogo didampingi Sekretaris Program Studi DKV Derena Martha Yohanda mengajukan sejumlah pertanyaan kunci untuk menggali pandangan praktisi bagi pengembangan mahasiswa.
Soal dinamika kerja kelompok yang kerap jadi keluhan mahasiswa, Monica menjelaskan bahwa hal itu adalah miniatur kerja korporat: "Teamwork itu di mana-mana... di korporat juga banyak yang enggak banget. Make it work. Dari tim project ini kalian bisa latihan leadership."
Soal kelayakan tugas kuliah sebagai portofolio melamar kerja, Syahrul menegaskan tugas kuliah maupun proyek pribadi sangat layak dipakai: "Bisa banget... kalau fan-made atau student project, jelaskan secara jujur. Yang penting kemasannya rapi dan memperlihatkan proses berpikir kalian."
Soal arah pengembangan kurikulum, para praktisi menyarankan penambahan porsi latihan public speaking, teknik presentasi (selling ideas), serta pembiasaan komunikasi bahasa Inggris untuk menunjang kepercayaan diri di kancah internasional.

Penutup
Mengusung semangat "MADE FOR MORE+: Think Bigger. Go Further.", acara ini ditutup dengan dorongan bagi mahasiswa STSRD VISI untuk berani keluar dari zona nyaman, mendokumentasikan proses berkarya secara konsisten, dan meyakini kualitas diri di kancah global. Kolaborasi ini menegaskan komitmen STSRD VISI di Yogyakarta sebagai kampus seni rupa dan desain yang mencetak talenta berstandar internasional.